Persepsi adalah terminologi yang berasal dari bahasa Latin perceptio atau percipio yang memiliki makna tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tetang lingkungan. Sementara itu, definisi persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai dalam dua pengertian. Pertama, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Kedua, persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancainderanya.
Persepsi terjadi ketika seseorang mendapatkan informasi melalui inderanya. Manusia umumnya dianugerahi lima macam indera, yaitu indera penglihatan (mata), indera pendengaran (telinga), indera peraba (kulit), indera penciuman (hidung), dan indera perasa (lidah). Masing-masing dari indera tersebut dapat memberikan informasi yang berbeda mengenai apa yang ada di lingkungan manusia. Hal ini akhirnya menimbulkan munculnya berbagai jenis persepsi yang dapat dibuat oleh manusia, berbagai macam persepsi tersebut diantaranya:
1. Persepsi Visual
Persepsi visual dibuat oleh manusia melalui informasi yang diperoleh dari indera penglihatan, yakni mata. Penglihatan dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali cahaya dan menafsirkannya. Mata merupakan indera yang paling awal berkembang pada bayi, karenanya manusia cenderung menggunakan mata untuk membuat persepsi dibandingkan dengan indera yang lain.
2. Persepsi Auditori
Persepsi auditori didapatkan melalui indera pendengaran yaitu telinga. Pendengaran dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali suara. Meskipun suara ditangkap dengan telinga, namun proses “mendengarkan” juga melibatkan berbagai syaraf dan otak. Makhluk hidup di dunia ini memiliki kemampuan mendengarkan suara pada amplitudo dan frekuensi tertentu. Manusia merupakan makhluk yang hanya bisa mendengarkan suara pada kekuatan 20 Hz sampai 20.000 Hz saja. Sementara spesies lain mungkin dapat mendengarakan suara pada range di bawah atau di atas frekuensi tersebut.
3. Persepsi Perabaan
Persepsi perabaan didapatkan melalui indera taktil yaitu kulit. Kulit merupakan bagian tubuh yang berada paling luar. Selain sebagai pelindung bagi organ-organ yang ada di dalam tubuh, kulit juga dilengkapi dengan bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan.
4. Persepsi Penciuman
Persepsi penciuman didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung. Penciuman dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengkap dan merasakan bau. Penciuman merupakan sebuah bentuk kemosensor, artinya zat kimia lah yang bertanggung jawab dalam proses penciumanan. Zat kimia mengaktifkan sistem olfaktori (penciuman) dalam konsentrasi kecil yang sering kita sebut dengan istilah bau.
5. Persepsi Pengecapan
Persepsi pengecapan didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah. Pengegecapan merujuk pada kemampuan mendeteksi rasa suatu zat seperti makanan atau racun. Indera pengecapan terkait pada persepsi otak terhadap rasa. Pengecapan merupakan suatu bentuk kemoreseptor yang dapat merasakan empat sensasi pengecapan klasik, yakni manis, asin, masam, dan pahit. Namun belakangan ini ahli-ahli psikofisik dan neurosains mengusulkan untuk menambah kategori lain, yakni rasa gurih (umami) dan asam lemak.
Proses pembentukan persepsi dapat dihasilkan melalui tiga langkah. Meskipun begitu, tiga langkah ini tidak saling terpisah, namun bersifat continue, bercampur baur, dan bertumpang tindih satu sama lain. Ketiga langkah tersebut adalah:
1. Terjadinya stimulasi alat indera (sensory stimulation)
Pada tahap pertama, alat-alat indera kita distimulasi oleh rangsangan dari luar. Rangsangan dapat diterima oleh kelima alat indera kita secara bersamaan, mulai dari suara musik yang kita dengar, pemandangan alam yang kita lihat, rasa manis dari kue yang kita makan, aroma parfum orang yang kita cium, hingga keringat yang mengucur ketika cuaca panas.
2. Pengaturan stimulasi terhadap alat indera Di tahap kedua, rangsangan-rangsangan yang diterima oleh alat indera diatur. Meskipun kelima indera kita menerima stimulasi setiap detik, namun hanya hal-hal tertentu yang membuat kita tertarik untuk membuat persepsi atas stimulasi tersebut. Pada tahap inilah syaraf dan otak kita melakukan pengaturan atas jutaan stimulasi yang dirasakan oleh indera kita tersebut.
3. Penafsiran – Evaluasi stimulasi alat indera
Langkah ketiga merupakan proses subjektif yang melibatkan evaluasi di pihak penerima. Penafsiran dan evaluasi tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, namun juga dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal pembentuk persepsi.